Depok, 02 Juni 2010 Habis Sensus, Terbitlah Utang Rp 6,6 juta Sufyan al Jawi - Numismatik Indonesia Sebagai bangsa sebenarnya kita sudah bangkrut! Namun karena kekayaan yang melimpah, negara ini tetap hidup, meski tak boleh kita nikmati. Sensus Penduduk baru saja usai. Setelah disensus, kita masing-masing berhutang Rp 6,6 Juta. Hitungannya utang Rp 1.588 Trilyun dibagi 240 Juta rakyat Indonesia (Mei 2010). Bagi Anda yang telah berkeluarga, beban utang anda bertambah menjadi Rp 33 Juta ( 1 istri, 3 anak). Utang ini harus Anda bayar, tentu saja pemerintah tidak memintanya langsung kepada Anda, kecuali yang lewat pajak. Utang tersebut Anda bayar melalui inflasi uang kertas yang Anda pegang. Mereka menamainya sebagai sirklus inflasi bulanan, itulah sebabnya rupiah selalu merosot daya belinya. Tentunya Anda akan semakin terbebani dalam memenuhi biaya keluarga, karena setiap bulan penghasilan Anda yang tetap, akan semakin tak berdaya mengikuti laju inflasi rupiah. Salah satu faktor p...
Postingan populer dari blog ini
Menyerap Tuhan
Saya ingat, saat memilih jurusan Aqidah Filsafat di Universitas Islam Negeri (dulu Institut Agama Islam Negeri)Bandung tahun 1993 lalu. Saat itu, keinginan saya hanya satu, menjadi seorang pemikir dengan segudang teori dan metode analisis. Saya pun memasuki alam baru yang mengajarkan kita untuk kritis, radikal, dan sistematis. Retorika bahasa pun begitu kokoh, argumentasi logis menjadi andalan. Seiring dengan waktu, saya pun berkenalan dengan Plato, Aristoteles, Socrates, Rene' Descartes, Immanuel Kant, sampai filosof revolusioner Hegel, hingga Karl Marx. Pemikiran para tokoh2 itu begitu deras menerpa langit-langit di kepala. Benteng di dada ini bergemuruh,ingin menjadi seperti mereka yang bisa mengubah dunia. Buku-buku pun dilalap habis. Diskusi menjadi ajang paling menentukan, terutama adu kepala dan logika. Begitulah saat berkenalan dengan Muhammad Iqbal, seorang filosof, penyair, dan negarawan Paksitan, saya baru terenyuh. Ketika saya jatuh cinta padanya, runtuhlah filsafat...
Kita hanya butuh skenario
Jadi inget lagu God Bless. Dunia ini adalah panggung sandiwara. Alloh adalah Sang Sutradara dan Kita adalah aktor dan aktrisnya. Kita diberi tujuan untuk membuat cerita yang berakhir dengan happy ending, berakhir bahagia. Akhir itu adalah kematian yang menyenangkan. Lalu, mana skenarionnya? Alquran, Alhadist, Ijma, Qiyas, dan Ijtihad adalah scenario terbaik yang diturunkan Alloh. Bagaimana agar cerita ini menjadi menarik dan bermakna bagi kita. Tentu, memahami sebuah panggung sandiwara menjadi keniscayaan bagi kita. Semua yang ada di atas panggung, harus menjadi alat bagi kita untuk membantu peran sebaik-baiknya. Begitu pun, seorang aktor harus mampu mengejawantahkan scenario itu di atas panggung, hingga menjadi pertunjukan dinamis, progresif, dan menarik serta bermakna. Panggung, setting, backdrop, tools, cahaya, sudah tersedia, disediakan sang Sutradara. Peran kita, secara natural, adalah seorang anak, suami, bapak, tetangga, pekerja, kawan, sahabat, dan instrument lainnya. Sedangka...

Komentar